Jumat, 09 November 2012

Lengenda Batu Antang dalam Bahasa Indonesia



Batu Antang - Tamanggung Amai Rawang

Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang, merupakan legenda di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange di hulu Kahayan (kec. Tewah, Kab. Gunung Mas, Prov. Kalimantan Tengah) yang menceritakan berdirinya Kuta atau Benteng diatas Batu Suli Puruk Tamanggung. 

Diceritakan, pada suatu hari, disaat semua orang di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange sedang berada di ladang karena pada saat itu memang sedang musim panen, tanpa disangka datanglah segerombolan Kayau (pemburu kepala) dari suku Ot menyerang desa tersebut.

Disaat serangan terjadi, yang ada hanyalah beberapa orang kaum perempuan yang sedang mencuci pakaian dipinggir sungai Kahayan. Salah satunya adalah Nyai Inai Rawang istri dari Toendan yang bergelar Tamanggung Amai Rawang.

Akibat serangan tersebut, banyak yang mati, terluka maupun melarikan diri. Disaat Tamanggung Amai Rawang beserta adiknya Tewek yang bergelar Singa Puai pulang dari ladang, terkejutlah mereka melihat keadaan yang telah terjadi.

Maka disuruhnyalah Singa Puai untuk memanggil kembali kakak mereka yang tertua yang bernama Ucek beserta semua orang yang sedang bekerja diladang untuk mengadakan pembalasan.

Namun malang, ternyata gerombolan Kayau tersebut setelah menyerang kaum perempuan yang ada di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange, mereka juga datang menyerang orang-orang yang sedang bekerja diladang, sehingga banyak mati dan terluka parah.

Dan sebelum gerombolan Kayau tersebut pulang, mereka sempat berpesan bahwa dalam tempo tujuh hari lagi mereka datang kembali. Bila warga desa Upun Batu atau Tumbang Manange ingin selamat, mereka harus menyerahkan harta kekayaan mereka dan rela dijadikan budak.Namun bila mereka tidak mau menyerahkan harta benda, maka mereka akan dibunuh semuanya. Sebagai tanda ancaman tersebut, tertancaplah sebuah Sampalak, yaitu tanda bahwa daerah tersebut akan diserang atau di Kayau.

Kini tinggallah Tamanggung Amai Rawang beserta saudara-saudaranya dan segelintir warga desa yang tersisa, duduk termenung memikirkan bencana yang baru saja menimpa mereka. Ingin mengadakan pembalasan, apa daya kekuatan sudah tidak ada lagi.

Sehingga akhirnya muncullah ide untuk Manajah Antang, yaitu upacara memanggil burung Elang yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari para Antang Patahu, yaitu roh-roh leluhur yang bertugas sebagai dayang penunggu wilayah untuk meminta petunjuk dan pertolongan.

Tidak beberapa lama, upacara Manajah Antang pun dilakukan. Berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh para Antang Patahu, bahwa Tamanggung Amai Rawang haruslah mendirikan kuta atau sebuah benteng diatas bukit batu yang terletak di tengah sungai, berseberangan dengan desa Upun Batu atau Tumbang Manange.

Apabila musuh datang dari arah matahari terbenam, maka mereka harus lari, sebab menandakan mereka akan kalah. Namun bila musuh datang dari arah matahari terbit, itu berarti mereka akan menang.
Dan Tamanggung Amai Rawang tidak boleh mencabut senjata mandaunya untuk menghalau musuh. Ia cukup duduk diatas gong sambil menonton apa yang terjadi, sebab para Antang Patahulah yang akan berperang baginya.

Ternyata, pada hari yang telah ditentukan, datanglah gerombolan Kayau untuk menyerang kembali Desa Upun Batu atau Tumbang Manange. Mereka datang dari arah matahari terbit dengan tampang yang ganas.

Namun sebelum mereka dapat menyentuh Tamanggung Amai Rawang, mereka sudah berjatuhan karena diserang oleh para Antang Patahu. Gerombolan Kayau tersebut takluk dan bersedia menjadi pengikut atau budak dari Tamanggung Amai Rawang.

Desa Upun Batu atau Tumbang Manange, akhirnya menjadi aman tentram kembali seperti dahulu kala berkat pertolongan para Antang Patahu yang adalah pengejawantahan dari pertolongan Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud jawaban dari upacara Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang.

Setelah peristiwa itu desa Upun Batu (Tumbang Manange) kembali seperti sedia kala, tentranm dan dmai.
Antang Patahu merupakan penjelmaan dari Tuhan Yang Mahakuasa yang menolong orang yang benar dan yang tidak berbuat jahat. Antang Patahu akan datang jika dipanggil dengan upacara Manajah Antang.

Tempat Temanggung Amai Rawang Manajah Antang ada sebuah batu yang disebut dengan “Batu Antang (atau juga disebut batu tingkes / batu pencobaan),  di atas puruk Puruk Amai Rawang. Pada batu Antang itu ada sebuah lobangh kecil, konon cerita masyarakat desa, jika orang mampu melewatinya dan keluar ke sebelah sisinya, ia berumur panjang dan hidupnya beruntung. Di atas puruk Amai Rawang itulah terdapat makam Temanggung Amai Rawang hingga saat ini. 

Di sisi Puruk Amai Rawang ada "Batu Suli" (karena bentuknya mirip buah "Suli" (buah hutan) yang terletak di pinggir sungai Kahayan, sekarang ini menjadi sebuah Obyek Wisata, daerah Kecamatan Tewah, Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Jika melancong ke Kab. Gunung Mas, maka rugi kalau tidak melihat situs sejarah dan obyek wisata ini.

(sumber : /Isen Mulang Petehku/Kaskus.com  :  Di tulis kembali dengan sedikit penambahan beberapa kalimat dan paragraf.

Lengenda Batu Antang - Tamanggung Amai Rawang


LEGENDA BATU ANTANG dan TAMANGGUNG AMAI RAWANG

Hung katika huran intu lewu Upun Batu inyewut kea lewu Tumbang Manange, (wayah tuh tame Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah), Metuh wayah getem are oloh lewu t
ulak malan, baya pire-pire biti bewei je magun atun hung lewu te, tuntang tapare kawan bawi bewei. Bara kare kawan bawi lewu je melai te atun kea ije bawi basewut yete je nggare “Nyai Inai Rawang”. sawan “Toendan” je inggalar oloh kea “Tamanggung Amai Rawang”,

Metuh oloh are tulak malan nah salenga dumah “Asang Kayau” (tetek kulok) bara hulu batang danum je iyewut kea oloh ot, manyarang lewu Upun Batu, metuh rahat kawan bawi mampukan melai talian saran batang danum Kahayan. Asang Kayau te are mampatei oloh lewu, are kea je bahimang, hadari mawat arepe.


Metuh Tamanggung Amai Rawang ewen ndue paharie Tewek (andi bara Tamanggung Amai Rawang) buli bara tana, ewen ndue tarewen manampayah narai je jari mawi oloh lewu, are matei. Hemben te kea Tamanggung Amai Rawang manyuhu ije hatue je inggare “Singa Puai” tulak akan tana mantehau tambakas ewen je inggare “Ucek”, tuntang mimbit oloh are uka tau mambaleh bunu.


Sana sampai intu tana, Singa Puai tarewen, tagal Asang Kayau te jari mawi oloh melai tana. Are kea oloh matei gawi Asang Kayau te. Dia baya mawi bewei, Asang Kayau te malihi peteh, basa ewen akan haluli mangayau huang kauju andau harian. Kuan peteh te : “Hapus oloh Upun Batu tau salamat amun ewen manyarah kare panataue, tuntang manjadi jipen Asang Kayau te, amun dia ewen kareh uras impatei.” Limbah te Asang Kayau malihi “Sampalak” kilau kata (tanda) eka Asang Kayau kareh manyarang.


Tamanggung Amai Rawang dengan pire-pire biti oloh lewu je magun belum, muduk manure, manyarenan kapehen atei tuntang kapusang tagal taluh ije manaripi ewen lewu Upun Batu. Handak mamaleh bunu, jatun kaabas, tagal je batisa isut biti bewei.

Kajaria ewen, Manajah Antang (mantehau Antang Patahu, yete roh-roh tatu hiang je mahaga lewu), balaku pansanan tuntang pandohop.

Huang upacara Manajah Antang te, ewen mandinu pansanan bara Antang Patahu, uka Tamanggung Amai Rawang mampendeng ije kuta (benteng) intu hunjun bukit batu je tandipah lewu Upun Batu, Tumbang Manange. Amun Asang Kayau dumah bara hila pambelep, maka ewen musti hadari, jete kata ewen akan kalah, tapi amun Asang Kayau te dumah bara hila pambelum, rimae ewen akan manang.


Tuntang peteh Antang Patahu akan Tamanggung Amai Rawang, ie dia tau manyilak Mandau hapa manaharep musuh. Ie baya muduk hunjun garantung, mananture narai kajaria, tagal Antang Patahu kabuat je manaharep Asang Kayau te.


Puna tutu, andau je jari inukas Asang Kayau nah, tulus manjadi. Kawan Asang Kayau dumah handak manyarang lewu Upun Batu bara hila pambelom. Puna basiak ampin baun matan ewen.


Tapi, sahelu ewen manaharep Tamanggung Amai Rawang, Asang Kayau te eleh dip-dap manjatu, awi Antang Patahu. Kawan Asang Kayau balaku ampun, ewen dia ulih manaharep Antang Patahu, balalu ewen Asang Kayau manyarah arep ewen manjadi jipen Tamanggung Amai Rawang.


Limbah kejadian Asang Kayau jari sanai, Lewu Upun Batu (Tumbang Manange) haluli aman, sanang landang kilau sulake.


Antang Patahu te kilau ije tamunan Hatalla ngambu je mandohop masi oloh ije bujur buah dia basala. Ie tau dumah amun oloh mantehau mahalau upacara Manajah Antang.


Intu saran sungei Kahayan
te atun Batu Suli (awi tampae kilau bua suli) hung saran Puruk Amai Rawang. Intu Puruk Amai Rawang te Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang tege kea hete ije batu, je inggare Batu Antang (batu tingkes). Tege ije rombak intu Batu Antang te, manumun kapercaya oloh lewu, awang je ulih tame rumbak kurik palus balua akan silae, ie baumur panjang, batuah marajaki. Hung hete kea tege kubur Tamanggung Amai Rawang.

Wayah tuh, Batu Suli tuntang kea Puruk Amai Rawang te akan ije Obyek Wisata, ayun Kecamatan Tewah, Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Amun oloh samapai Tewah dia manalaih Batu Suli tuntang Puruk Amai Rawang rugi
tutu.

(sumber : /Isen Mulang Petehku/Kaskus.com : inyalin haluli dengan bahasa itah tuntang tege je indahangku isut).

Rabu, 07 November 2012

Sansana dan Alat Musik Pengiring

Sansana dalam pengertian umum adalah Cerita Rakyat Kalimantan Tengah yang dituturkan secara lisan, kadang diceritakan secara langsung dengan ucapan biasa, ada juga dengan cara dinyanyikan dengan lagu khas Dayak Ngaju, yang disebut Ngarungut (Karungut) dan dapat di iringi dengan Kecapi (Kacapi, Kanyapi), dengan Rebab (Rabab), dengan Suling (Suling Balawung).

Sansana bukan hanya sekedar cerita, legenda, dongeng pengantar tidur, namun sansana sarat akan pesan moral, peteh penyang (pesan leluhur), pembentukan integritas sebagai seorang anak Dayak. dll.

Sansana yang paling terkenal adalah Sansana Bandar (sansana dengan menggunakan bahasa Sangiang/bahasa Suci/tertinggi Dayak Ngaju),  Sansana Kayau, dan banyak sansana lainnya lagi.

Bisanya Orang tua mansana (bercerita) saat, santai di rumah, sebelum tidur malam, juga saat-saat tertentu, seperti saat membangun rumah, saat pesta ucapan syukur, dll.

 Tradisi mansana (sansana) sekarang ini semakin jarang dilakukan, karena perubahan dunia teknologi dan modernisasi. Dikhawatirkan kearifan lokal dan keluhuran dari Sansana ini akan tersisihkan seiring perjalanan waktu. Dan juga karena tradisi ini hanya dilakukan dengan cara lisan (dari mulut-kemulut) secara turun temurun oleh orang tua kepada anak cucunya. Oleh karena itu, saya selaku seorang putra Dayak Ngaju merasa terbeban untuk melestarikan budaya leluhur ini, dengan menuliskannya di blog ini, walaupun disadari ada banyak kekurangan dan keterbatasannya. Mungkin sudah ratusan bahkan ribuan Sansana yang sudah terlupakan, namun paling tidak beberapa diantaranya dapat terselamatkan.